LAPORAN AKUNTANSI SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA QARDHUL HASAN PADA PERBANKAN SYARIAH

LAPORAN AKUNTANSI SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA QARDHUL HASAN PADA PERBANKAN SYARIAH

  1. I.          Pendahuluan

Perbankan syariah merupakan salah satu derivatif atau turunan dari Lembaga Keuangan Syariah (LKS), yang mana mempunyai produk simpanan (funding) dan pembiayaan (lending) yang sangat bervariatif. Selain berorientasi pada laba (profit oriented) juga berorientasi pada sosial (tabarru’) atau disamping produk dan layanan yang bersifat komersial, perbankan syariah juga melaksanakan fungsi sosial yang merupakan keistimewaan bank islam melalui aktivitas penghimpunan dan penyaluran dana sosial (zakat, infaq, sadaqah dan hibah) dan dana kebajikan (qardhul hasan) yaitu pinjam meminjam dana tanpa imbalan dengan kewajiban pihak peminjam mengembalikan pokok pinjaman secara sekaligus atau cicilan dalam jangka waktu tertentu, peminjaman ini disalurkan kepada kaum dhu’afa dari segi ekonomi.[1] Bank syariah memperlakukan nasabah sebagai mitra usaha yang tidak hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan bisnis semata, tetapi juga pertimabangan kemanusian dan nilai-nilai sosial. [2]

Hal ini selaras dengan salah satu langkah penting atau penajaman fokus kebijakan dalam sasaran strategis pengembangan perbankan syariah dilakukan dengan optimalnya fungsi sosial bank syariah dalam memfasilitasi sektor voluntary atau sosial dengan program pemberdayaan ekonomi rakyat. Inisiatif strategis untuk optimalisasi fungsi sosial bank syariah melalui perannya dalam memfasilitasi hubungan voluntary sector (dana sosial) dengan pemberdayaan ekonomi rakyat. Perbankan syariah melalui jaringan layanan yang luas akan memberikan kemudahan bagi muzakki dan dermawan (pemilik dana) di dalam menyerahkan dana tersebut dan sekaligus memperlancar distribusi dana tersebut terutama ke daerah-daerah yang sangat membutuhkan.

Melihat potensi sumber dan pemanfaatan dana qardhul hasan dan fasilitas jasa sosial perbankan lainnya ternyata cukup besar dan apabila dana-dana tersebut dimanfaatkan dan dikelola secara optimal dan profesional misal dengan menggunakan prinsip atau kaidah dan teknik manajemen yang relevan yaitu, prinsip amar ma’ruf nahi mungkar, kewajiban menegakan kebenaran, kewajiban menegakan keadilan, dan kewajiban menyampaikan amanah.[3] Tentunya dengan maksud agar dana-dana tersebut tersalurkan kepada mereka yang berhak mendapatkannya atau tepat sasaran.

Oleh karena itu, dengan tingginya potensi sumber dan pemanfaatan dana qardhul hasan pada perbankan syariah, maka akuntansi dalam transaksi-transaksinya juga sangat dibutuhkan untuk semua pihak baik internal bank syariah sendiri maupun kalangan eksternal bank syariah. Sebagai bukti responsibility serta keakuntabilitasan perbankan syariah. Dimana semuanya merupakan derivasi dari metavora “amanah”.[4]

 

  1. II.      Pembahasan

    1. Definisi Qardhul Hasan

Secara etimologi, qarada-yaqridu berarti memotong. Dikatakan demikian karena harta tersebut benar-benar dipotong apabila diberikan kepada peminjam. Berdasarkan hadits Nabi Saw yang artinya, Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi saw. Berkata, ”bukan seorang muslim (mereka) yang meminjamkan muslim (lainnya) dua kali kecuali yang satunya adalah (senilai) shadaqah” (HR Ibnu Majah no. 2421, Kitab Al-Ahkam; Ibnu Hibban dan Baihaqi). Ini merupakan keterangan yang sah serta merupakan sunnah Nabi Saw.[5] Secara terminologi (istilah) qardhul hasan merupakan fungsi sosial pada perbankan syariah di mana dananya diambil dari dana kebajikan.

 

  2. Landasan Syariah Qardhul Hasan

Transaksi qardhul hasan diperbolehkan oleh para ulama berdasarkan Hadits Riwayat Ibnu Majjah dan Ijma’ Ulama. Sesungguhpun demikian Allah SWT mengajarkan kepada kita agar meminjamkan sesuatu bagi ”agama Allah”.

 

  1. a.  Al-Quran

منْ ذاَ الَّذِى يقْرِضُ اللهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيْمٌ

”Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, Maka  Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak”.[6]

Yang menjadi landasan dalil dalam ayat ini adalah kita diseru untuk ”meminjamkan kepada Allah”, artinya untuk membelanjakan harta dijalan Allah. Selaras dengan meminjamkan kepada Allah, kita juga diseru untuk ”meminjamkan sesama manusia”, sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat (civil society).

  1. Al-Hadits

{ عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِمًا

 قَرْضًا مَرَّتَيْنِ إِلاَّ كَان كَصَدَقَتِهَا مَرَّةً }

Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi saw. Berkata, ”bukan seorang muslim (mereka) yang meminjamkan muslim (lainnya) dua kali kecuali yang satunya adalah (senilai) shadaqah”[7]

  1. Ijma’

Para ulama telah menyepakati bahwa qardh atau qardhul hasan boleh dilakukan. Kesepakatan ulama ini didasari tabiat manusia yang tidak bisa hidup tanpa pertolongan dan bantuan saudaranya. Tidak ada seorang pun yang memiliki segala barang yang ia butuhkan. Oleh karena itu, pinjam meminjam sudah menjadi satu bagian dari kehidupan ini. Islam adalah agama yang sangat memperhatikan segenap kebutuhan umatnya.

 

 

  1. 3.    Karakteristik Qardhul Hasan

Dibawah ini adalah beberapa karakteristik qardhul hasan:

  1.                           i.      Bank syariah di samping memberikan pinjaman qardh, juga dapat menyalurkan pinjaman dalam bentuk qardhul hasan. Qardhul hasan adalah pinjaman tanpa imbalan yang memungkinkan peminjam untuk menggunakan dana tersebut selama jangka waktu tertentu dan mengembalikan dalam jumlah yang sama pada akhir periode yang disepakati. Jika peminjam mengalami kerugian bukan karena kelalaiannya maka kerugian tersebut dapat mengurangi jumlah pinjaman.
  2.                         ii.      Sumber dana qardhul hasan berasal dari eksternal dan internal. Sumber dana eksternal meliputi dana qardh yang diterima bank syariah dari pihak lain (misalnya dari sumbangan, infak, shadaqah, dan sebagainya), dana yang disediakan oleh para pemilik bank syariah dan hasil pendapatan non-halal. Sumber dana internal meliputi hasil tagihan piinjaman qardhul hasan.[8]
  3.                       iii.      Aplikasi akad qardh dalam perbankan syariah biasanya diterapkan sebagai produk untuk menyumbang usaha yang sangat kecil atau membantu sektor sosial. Guna pemenuhan skema ini telah dikenal suatu produk khusus yaitu qardhul hasan.

 

4. Sumber Dana Qardhul Hasan

  1. Sumber dana qardh terdiri atas:
  2. Infaq;
  3. Shadaqah;
  4. Denda;
  5. Sumbangan/hibah;
  6. Pendapatan non halal.
  7. Sumber dana infaq dan shadaqah dari pihak luar bank adalah dana yang diterima dari pihak luar atau dari rekening nasabah atas permintaan nasabah.
  8. Sumber dana kebajikan berupa pendapatan non halal berasal dari penerimaan jasa giro dari bank konvensional atau penerimaan lainnya yang tidak dapat dihindari dalam kegiatan operasional bank.
  9. Dana qardh dapat disalurkan sebagai dana bergulir untuk kegiatan sosial.
  10. Dana qardh harus disalurkan kepada yang berhak sesuai syariah.[9]
  11. Qardhul Hasan. Pinjaman kemurahan dan merupakan salah satu keistimewaan bank syariah. Pinjaman lunak ini diberikan hanya kepada orang yang sangat membutuhkan dan tergolong miskin atau tidak mampu.
  12. 7.      Peminjam hanya diwajibkan untuk membayar kembali utangnya tanpa memberikan bagian laba yang diperolehnya kepada bank. Pinjaman ini dapat dipergunakan untuk maslah konsumsi atau untuk melakukan usaha (produktif).
  13. Dalam memberi pinjaman di atas, bank syariat dapat meminta jaminan kepada debitur, karena jaminan itu dibutuhkan untuk mengamankan dana yang dititipkan sebagai amanah, baik berupa giro dan berbagai bentuk simpanan lainnya. Jaminan tersebut dalam bahasa teknisnya disebut dengan kafalah.[10]

 

Secara umum, skema qardhul hasan pada perbankan syariah dapat digambarkan secara berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 5.    Penggunaan Dana Qardhul Hasan

Pada umumnya penggunaan dana qardhul hasan oleh muqtaridh di perbankan syariah, digunakan untuk dua hal yaitu:

  1. Untuk Modal Usaha (Pembiayaan)

Yaitu menyalurkan dana qardhul hasan melalui program Pemberdayaan  Ekonomi sebagai wujud kepedulian sosial perbankan syariah terhadap masyarakat sekitar dan bertujuan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk mengembangkan usaha menjadi lebih baik.

  1. Untuk Biaya Sekolah (Sumbangan)

Mahalnya biaya pendidikan saat ini mengakibatkan tidak sedikit masyarakat yang putus sekolah bahkan tidak mengenyam bangku pendidikan sama sekali. Oleh karena itu, perbankan syariah melalui akad qardhul hasan membantu mereka yang merasa kekurangan dana untuk biaya sekolah atau pendidikan.

 

  1. 6.    Akuntansi Sumber dan Penggunaan Dana Qardhul Hasan

Unsur dasar laporan sumber  dan pengunaan dana qardhul hasan meliputi sumber  penggunaan dan qardhul hasan selama jangka waktu tertentu dan saldo dana qardhul hasan pada tanggal tertentu. Sumber dana qardhul  hasan berasal dari bank atau dari luar bank. Sumber dana qardhul hasan dari luar berasal dari infak dan shadaqah dari pemilik, nasabah, atau pihak lainnya. Penggunaan dana qardhul  hasan meliputi pemberian pinjaman baru selama jangka waktu tertentu dan pengembalian dana qardhul  hasan temporer  yang  disediakan pihak lain. Saldo dana qardhul hasan adalah dana qardhul  hasan yang belum disalurkan pada tanggal tertentu.[11]

Tentang  laporan sumber dan penggunaan dana qardhul hasan, PSAK No 59 (2002) mengaturnya  sebagai berikut  ini.

Bank syariah menyajikan laporan sumber dan penggunaan dana qardhul hasan sebagai komponen utama laporan keuangan yang menunjukan sebagai berikut:

a)                  Sumber dana-dana qardhul hasan yang berasal dari penerimaan;

(1)  Infak,                   (3) denda, dan

(2)      Shadaqah            (4) pendapatan non halal.

b)                  Penggunanaan dana qardhul hasan untuk

(1) Pinjaman, dan      (2) Sumbangan.

c)                  Kenaikan dan penurunan sumber dana qardhul hasan;

d)                 Saldo awal dana qardhul hasan;

e)                  Saldo akhir dana qardul hasan.

Apabila laporan sumber dan pengguna dana qardhul hasan disusun secara skontro (Taccount) maka laporan akan seperti di bawah ini:

Bank Syariah Barokah

Laporan Sumber Dan Penggunaan Dana Qardhul Hasan (ZIS)

Untuk Periode Yang Berakhir 31 Desember 2010

Sumber Dana Penggunaan Dana
  1. Saldo awal                   Rp. 10.000.000,00
  2. Penambahan
    1. Infaq                 Rp. 10.000.000,00
    2. Shadaqah         Rp. 10.000.000,00
    3. Denda               Rp. 10.000.000,00
    4. Pendapatan

non halal          Rp. 10.000.000,00

Jumlah sumber dana         Rp. 40.000.000,00

Total dana tersedia           Rp. 50.000.000,00

  1. Pengurangan, untuk:
    1. Pinjaman                     Rp. 30.000.000,00
    2. Sumbangan                 Rp. 15.000.000,00

Jumlah penggunaan         Rp. 45.000.000,00

  1. Saldo akhir                      Rp. 5.000.000,00

Total penggunaan

dan saldo dana                    Rp. 50.000.000,00

 

 

 

 

 

 

  1. III.   Penutup

Qardhul hasan seringkali dijadikan jargon dalam perbankan syariah, dikarenakan ia sebagai fungsi sosialnya yang paling urgent. Tetapi hal ini mungkin tidak jauh berbeda dengan CSR[12] pada pembankan atau perusahaan yang tidak berbasis syariah.

Terlepas dari itu semua, mengutip statment Syafi’i Antonio, dalam landasan falsafahnya dinyatakan bahwa perbankan syari’ah ditujukan untuk mencari keridhaan Allah SWT, untuk memperoleh kebajikan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, setiap kegiatan lembaga keuangan yang dikhawatirkan menyimpang dari tuntunan agama harus dihindari, yaitu dengan cara menjauhkan diri dari unsur riba dan menerapkan sistem bagi hasil dan perdagangan. Dengan mengacu pada al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 275[13] dan an- Nisa ayat 29[14], maka setiap transaksi kelembagaan syariah harus dilandasi atas dasar sistem bagi hasil dan perdagangan atau transaksinya didasari oleh adanya pertukaran antara uang dengan barang. Akibatnya pada kegiatan mu’amalat berlaku prinsip ada barang/jasa uang dengan barang, sehingga akan mendorong produksi barang/jasa, mendorong kelancaran arus barang/jasa, dapat dihindari adanya penyalahgunaan kredit, spekulasi, dan inflasi. Prinsip utama bank syari’ah adalah harus menuju pada pengembangan kesejahteraan masyarakat yang bermuara kepada kondisi sosial masyarakat yang menentramkan.

Statment di atas dikuatkan lagi dengan pernyataan Muhammad,[15] dalam karyanya yang berjudul akuntansi syariah bahwa sistem bagi hasil dan semua transaksi (qardhul hasan juga tercakup didalamnya) yang dilaksanakan dalam perbankan syariah harus dilandaskan pada akuntansi (muhasabah), yang mana rule of the games-nya tersirat pada al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 282[16]. Menurutnya akuntansi syariah memiliki tiga prinsip pokok yang harua ada didalamnya, yaitu: keadilan, kebenaran, dan pertanggung jawaban.

Selain tigi prisip di atas, terdapat hal lainnya yang membedakan akuntansi syariah dengan akuntansi konvensional yaitu adanya laporan qardhul hasan sehingga laporan pada perbankan syariah disajikan dengan banyak komponen. Lebih rincinya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Perbandingan antara Laporan Keuangan Perbankan Syariah dengan Perbankan Konvensional[17]

Unsur-Unsur Laporan Keuangan LKS

Unsur-Unsur Laporan Keuangan LKK

Neraca Neraca
Laporan Laba Rugi Laporan Laba Rugi
Laporan Arus Kas Laporan Perubahan Ekuitas
Laporan Perubahan Ekuitas Laporan Arus Kas
Laporan Perubahan Dana Investasi Terikat  
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana ZIS  
Laporan Sumber dan Penggunaan Dana Qardhul Hasan  

 Sumber: ED PSAK APS (2001)

Realita dalam dataran praktek, sumber dana qardhul hasan pada perbankan syariah, pada umumnya berasal dari eksternal dan internal. Sumber dana eksternal meliputi dana qardh yang diterima bank syariah dari pihak lain (misalnya dari sumbangan, infak, shadaqah dan sebagainya), dana yang disediakan oleh para pemilik bank syariah dan hasil pendapatan non halal. Sumber dana internal meliputi qardhul hasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Adnan, M. Akhyar. 2005. Akuntansi Syariah: Arah, Prospek, dan Tantangan. Yogyakarta: UII Press.

Al-Albani, Muhammad Nashiruddin. 2000.  Sahih At-Targhib Wat Tarhib Al-Juzul Awwal. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif Lin Nasyri Wat Tauzi’.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2002. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 59. Jakarta: Salemba Empat.

Muhammad dan Nur Ghofar Isma’il. 2005. Akuntansi Syari’ah Analisis Pendapat Muhammad al-Musahamah tentang Ayat-Ayat Akuntansi dalam Al-Qur’an. Yogyakarta: PEI Al-Musahamah.

_______. 2005. Manajemen Bank Syariah. Edisi Revisi. Yogyakarta:AMP YKPN.

Muslihuddin, Muhammad. 1994. Sistem Perbankan Islam. Jakarta: Rineka Cipta.

Sjahdeini, Sutan Remy. (2007). Perbankan Islam dan Kedudukannya dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Sumitro, Warkum . 2004. Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga-Lembaga Terkait. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.

Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia. 2003. Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia, cet. 1. Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Triwuyono, Iwan. 2006. Perspektif, Metodologi, dan Teori Akuntansi Syariah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Wiyono, Slamet. 2006. Cara Mudah Memahami Akuntansi Perbankan Syariah Berdasar PSAK dan PAPSI. Jakarta: PT Grasindo.


[1] Sutan Remy Sjahdeini, Perbankan Islam dan Kedudukannya dalam Tata Hukum Perbankan Indonesia, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2007), hal. 75.

[2] Warkum Sumitro, Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga-Lembaga Terkait, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 23.

[3] Muhammad, Manajemen Bank Syariah, Edisi Revisi, (Yogyakarta:AMP YKPN, 2005), hal. 188-190.

[4] Iwan Triwuyono, Perspektif, Metodologi, dan Teori Akuntansi Syariah, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006), hal. 348.

[5] Muhammad Muslihuddin, Sistem Perbankan Islam, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hal.. 73.

 [6] QS. Al-Hadid (57): 11.

[7] Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Sahih At-Targhib Wat Tarhib Al-Juzul Awwal, (Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif Lin Nasyri Wat Tauzi’, 2000), hal. 538. Hadist Sahih, Riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dan menurut Baihaqi Hadist ini Marfu’ dan Mauquf.

[8] Ikatan Akuntan Indonesia, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 59, (Jakarta: Salemba Empat, 2002), hal. 23.

[9] Tim Penyusun Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia, Pedoman Akuntansi Perbankan Syariah Indonesia, cet. 1. (Jakarta: Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), 2003), hal. 227-228.

[10] Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Dinamika Masa Kini, diedit oleh Taufik Abdullah dkk, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, t.t), jilid 6: 406-407, artikel ”Bank Islam”, oleh Dawam Rahardjo.

[11] Slamet Wiyono, Cara Mudah Memahami Akuntansi Perbankan Syariah Berdasar PSAK dan PAPSI, (Jakarta: PT Grasindo, 2006), hal. 175-176.

[12] Tanggungjawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan dapat didefinisikan sebagai mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya dan interaksinya dengan stake holders, yang melebihi tanggungjawab organisasi di bidang hukum (Aggraini, 2006).

[13] Yang artinya: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

[14] Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”

[15] Muhammad dan Nur Ghofar Isma’il, Akuntansi Syari’ah Analisis Pendapat Muhammad al-Musahamah tentang Ayat-Ayat Akuntansi dalam Al-Qur’an, (Yogyakarta: PEI Al-Musahamah, 2005), hal. 61-62.

[16] Yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

[17] M. Akhyar Adnan, Akuntansi Syariah: Arah, Prospek, dan Tantangan, (Yogyakarta: UII Press, 2005), hal. 84-85.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: